Majalengka, Jumat, 7 November 2025 Upaya
memperkuat peran generasi muda dalam merawat kerukunan umat beragama terus
digalakkan di berbagai daerah. Salah satunya melalui kegiatan bertajuk “Pemuda sebagai
Pelaku Perubahan Kerukunan” yang diselenggarakan di Pesantren Ekologi Al Mizan Wanajaya, Majalengka, pada
Jumat (7/11). Acara ini menjadi ruang pertemuan bagi 100 peserta yang terdiri dari pemuda lintas agama, tokoh agama, serta perwakilan penyandang
disabilitas, untuk bersama-sama meneguhkan komitmen kebangsaan,
toleransi, dan solidaritas sosial.
Kegiatan dibuka
oleh Romi Rasyad Mahdi dari Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama Republik
Indonesia. Dalam sambutannya, Romi menekankan pentingnya peran
pemuda dalam menjaga harmoni sosial di tengah arus perubahan yang cepat,
terutama di era digital yang sarat dengan potensi misinformasi dan polarisasi.
“Kerukunan
adalah tugas bersama, bukan hanya tanggung jawab tokoh agama atau pemerintah.
Pemuda hari ini bukan lagi pengamat, melainkan pelaku perubahan. Di Majalengka,
mari kita buktikan bahwa data provinsi bisa diubah dengan aksi sosial yang
nyata,” tegas Romi di hadapan peserta.
Acara ini
menghadirkan KH. Maman Imanulhaq, M.M, anggota Komisi VIII DPR RI sekaligus pengasuh Pesantren Ekologi
Al Mizan, sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, KH. Maman menyoroti bahwa
Indonesia adalah bangsa plural, terdiri dari banyak
agama, etnis, dan budaya. Ia menegaskan bahwa kerukunan antarumat beragama
merupakan faktor fundamental bagi stabilitas sosial, politik, dan
pembangunan nasional.
“Kita masih
menghadapi tantangan berupa intoleransi dan pelanggaran kebebasan beragama.
Karena itu, kita perlu memperkuat kolaborasi lintas iman dan lintas generasi.
Pesantren harus menjadi laboratorium perdamaian, tempat nilai-nilai spiritual
dan ekologis tumbuh bersama dalam keseimbangan,” ujar KH. Maman.
Pesantren
Ekologi Al Mizan dikenal sebagai ruang pendidikan yang mengintegrasikan
nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Melalui
pendekatan ekoteologi,
pesantren ini mengajarkan bahwa menjaga bumi dan menjaga kerukunan sesama
manusia adalah dua hal yang tidak terpisahkan.
Selain diskusi
dan refleksi bersama, kegiatan juga diisi dengan penanaman pohon simbolik sebagai tanda komitmen menjaga
harmoni antarumat sekaligus harmoni dengan alam. Para peserta, termasuk
komunitas muda lintas agama dan penyandang disabilitas, menunjukkan semangat
inklusif dan kolaboratif untuk mewujudkan Majalengka sebagai daerah yang rukun
dan ramah bagi semua.
Dengan semangat
“Waktunya Bergerak”, kegiatan ini menjadi momentum
penting bagi pemuda Majalengka untuk mengambil peran nyata dalam memperkuat
toleransi. Kerukunan bukan hanya wacana, tetapi aksi bersama yang diwujudkan
melalui kerja sosial, dialog lintas iman, dan kepedulian terhadap sesama serta
lingkungan.