Bahasa dan Kehidupan, Filsafat Harakat dalam Irama Ketertiban Ilahi

Admin Budaya 02 Nov 2025 241 kali dibaca
Bahasa dan Kehidupan, Filsafat Harakat dalam Irama Ketertiban Ilahi

Bahasa dan Kehidupan, Filsafat Harakat dalam Irama Ketertiban Ilahi

Oleh, Jemmy Ibnu Suardi, Peneliti Islam Nusantara

Di dunia Arab, huruf bukan sekadar huruf. Ia hidup, bernapas, dan bergerak dengan tanda kecil di atas dan di bawahnya: fatḥah, kasrah, ḍammah, dan sukūn. Empat tanda yang mungkin tampak remeh ini sesungguhnya menyimpan rahasia besar, cara bahasa menata dunia.

Para ulama klasik misalnya seperti Ibn Ājurrūm dimana karya tulisnya tentang ilmu gramatika bahasa Arab banyak digunakan seluruh pesantren di Nusantara, mengajarkan bahwa harakat bukan sekadar penuntun bunyi, melainkan penanda makna. Satu titik atau garis kecil di atas huruf bisa mengubah arah seluruh kalimat, bahkan arti sebuah ayat. Karena itu, bahasa Arab adalah bahasa hukum, setiap perubahan menuntut alasan, setiap huruf tunduk pada keteraturan.

Dalam sistem tata bahasa Arab, setiap harakat menandai kedudukan (i‘rāb). Ḍammah menandakan raf‘—derajat tinggi, posisi pelaku. Fatḥah menandakan naṣb—objek, penerima tindakan. Kasrah menunjukkan jar—relasi dan keterikatan. Sementara sukun atau jazm adalah tanda diam, ketegasan, titik akhir dari gerak kata kerja.

Bagi Ibn Ājurrūm dan para penerusnya, perubahan harakat adalah perubahan logika. Ketika ḍammah berubah menjadi fatḥah, bukan hanya suara yang berganti, tetapi juga relasi makna, dari pelaku menjadi yang dikenai, dari sumber gerak menjadi yang menerima akibat. Bahasa diatur seperti semesta, ada sebab, akibat, dan hukum yang mengikat di antara keduanya.

Dalam tradisi Islam, bahasa sering dipandang sebagai pantulan dari keteraturan Ilahi. Tidak ada huruf yang bergerak tanpa hukum, sebagaimana tidak ada bintang yang beredar tanpa orbitnya. Harakat adalah tanda terkecil dalam sistem bahasa, mewakili cara Tuhan mengatur ciptaan, dengan keseimbangan, keteraturan, dan tujuan.
Jika kita renungkan;

Raf‘ (ḍammah) adalah gerak naik, simbol kemuliaan, inisiatif, dan daya cipta.

Naṣb (fatḥah) adalah gerak keluar, simbol keterbukaan dan penerimaan.

Jar (kasrah) adalah gerak turun, simbol kerendahan hati dan pengakuan keterikatan.

Jazm (sukūn) adalah diam, simbol ketegasan, kepastian, dan kesempurnaan.

Empat gerak itu adalah irama kehidupan, kita naik dengan cita-cita, terbuka dalam tindakan, rendah dalam hubungan, dan akhirnya tenang dalam kepastian.

Hidup manusia sesungguhnya berjalan mengikuti logika harakat. Dalam masa muda, kita hidup dalam raf‘, penuh semangat, ingin menjadi pelaku sejarah. Kita ber-ḍammah, meninggi, membentuk identitas, menegaskan diri. 

Namun kehidupan segera mengajarkan naṣb, bahwa menjadi pelaku berarti juga siap menerima akibat. Kita diuji oleh tanggung jawab, oleh peran yang menuntut pengorbanan. 

Lalu kita memasuki jar, fase kesadaran bahwa kita tidak hidup sendiri. Kita terhubung, terikat, dan membutuhkan yang lain.

Dan pada akhirnya, kita tiba pada jazm; ketenangan batin, titik di mana kita berhenti berdebat dengan nasib, dan mulai berdamai dengan ketetapan Tuhan.

Begitulah hidup dari gerak menuju diam, dari ambisi menuju pengertian. Seperti kata, manusia pun mengalami perubahan harakat yang mengubah makna keberadaannya.

Bahasa Arab tidak mengenal kebetulan. Setiap tanda ada sebabnya. Di situlah letak keindahan sekaligus ketegasannya. Kesalahan satu harakat bisa mengubah makna wahyu, sebagaimana kesalahan kecil dalam hidup bisa mengubah arah nasib.

Ketika kita membaca dengan cermat, kita belajar disiplin berpikir. Ketika kita memahami aturan i‘rāb, kita belajar bahwa kebebasan sejati justru lahir dari ketaatan terhadap hukum.

Bahasa, dalam hal ini, bukan hanya alat bicara, tapi guru kehidupan. Ia mengajarkan bahwa kejelasan makna lahir dari keteraturan bentuk. Seperti manusia yang menemukan makna hidupnya ketika ia menata dirinya sesuai fitrah, tunduk kepada hukum, tapi bebas dalam makna.

Interpretasi filosofis atas sistem harakat mengajarkan sesuatu yang mendalam, Bahwa hidup adalah proses membaca bukan sekadar membaca teks, tapi membaca makna dalam setiap peristiwa. Fatḥah, kasrah, ḍammah, dan jazm bukan hanya tanda huruf, melainkan tanda keadaan jiwa.
Ketika kita terbuka (fatḥah), kita belajar menerima.
Ketika kita menunduk (kasrah), kita belajar rendah hati.
Ketika kita bersatu (ḍammah), kita belajar mencintai.
Dan ketika kita diam (jazm), kita belajar memahami.

Bahasa, dalam segala kehalusannya, mengajarkan bahwa kehidupan ini tidak pernah statis. Kita senantiasa berubah, berpindah dari satu keadaan ke keadaan lain dan justru dalam perubahan itulah makna kita ditemukan.

Menjadi Manusia Berharakat
Manusia tanpa harakat adalah seperti huruf tanpa bunyi; ada, tapi tak bermakna. Harakat memberi hidup pada huruf, sebagaimana makna memberi arah pada hidup.

Ibn Ājurrūm mungkin menyusun aturan bahasa, tetapi sesungguhnya ia juga sedang menggambarkan struktur makna kehidupan, bahwa setiap tindakan, sekecil apa pun, mengandung hukum dan tujuan.

Ketika kita belajar membaca Al-Qur’an dengan harakat yang benar, kita sebenarnya sedang belajar menyusun diri agar selaras dengan hukum Tuhan.

Bahasa mengajarkan bahwa kebenaran tidak hanya berada di puncak retorika, tapi juga dalam ketepatan kecil dalam garis mungil di atas huruf, dalam keputusan sederhana yang dilakukan dengan benar.

Bahasa Arab mengajarkan satu kebijaksanaan abadi, bahwa ketertiban adalah keindahan, dan keindahan adalah kebenaran.
Harakat mungkin kecil, tapi tanpanya dunia akan kehilangan makna.
Begitu pula manusia tanpa kesadaran akan hukum dan arah, hidupnya hanyalah huruf tanpa suara.

Dalam setiap fatḥah, kasrah, ḍammah, dan jazm, tersimpan pelajaran tentang hidup: bahwa kita bergerak, jatuh, tunduk, lalu diam. Dan di tengah irama itu, kita belajar menjadi manusia yang berharakat, hidup yang berpikir, tunduk, dan bermakna.

Budaya Lainnya