Oleh: Jemmy Ibnu Suardi, Peneliti
Tasawuf dan Filsafat Pendidikan Islam
Di tengah riuhnya dunia pendidikan yang kian dikejar angka dan sertifikat, ada satu pertanyaan yang nyaris tidak diajukan lagi: untuk apa manusia belajar? Pertanyaan sederhana ini justru menjadi kunci peradaban Islam klasik. Salah satu tokoh yang memberi jawaban paling dalam adalah Abū ʿAlī Aḥmad ibn Miskawayh, filsuf Persia abad ke-11 yang oleh para sarjana disebut “pendidik jiwa”.
Dalam pandangannya, pendidikan sejati bukanlah transfer pengetahuan, melainkan proses tahdzīb al-nafs, penyucian jiwa dan penataan akal agar manusia menjadi serupa dengan Tuhan dalam sifat-sifat kebajikan. Bukan dalam zat, tentu saja, melainkan dalam keadilan, kebijaksanaan, dan kasih sayang.
Filsuf Jerman Hans Daiber mengutip Miskawayh dalam bukunya Islamic Ethics as Educational Discourse (Mohr Siebeck, 2021) menulis: “Likeness to God constitutes true happiness (saʿādah) attained only through education of the rational soul.” Tugas etis manusia adalah menjadi seperti Tuhan dalam Kebajikan meniru keadilan-Nya, hikmah-Nya, dan rahmah-Nya dalam batas kemanusiaan. Dengan kata lain, belajar menurut Miskawayh adalah latihan meniru Tuhan.
Berabad-abad sebelum jargon character building menjadi mode di dunia modern, Miskawayh sudah mengajarkan bahwa akal adalah instrumen pendidikan moral. Akal harus “disinari oleh kebajikan”, kata Daiber, sebab tanpa moralitas, nalar hanya menjadi alat teknis yang dingin, mampu menciptakan mesin, tapi tak tahu ke mana mengarahkannya.
Paradigma ini terasa seperti kritik halus bagi zaman kita. Pendidikan hari ini cenderung menuhankan logika, tapi menelantarkan hikmah. Kita menghasilkan kecerdasan tanpa kebijaksanaan. Padahal dalam pandangan Miskawayh, akal sejati adalah yang telah dimurnikan oleh Kebajikan, akal yang beradab.
Konsep takhalluq bi akhlāq Allāh “meniru akhlak Tuhan” menjadi inti dari etika rasional Islam. Meniru keadilan berarti tidak zalim; meniru hikmah berarti berpikir jernih; meniru rahmah berarti berempati. Inilah bentuk tertinggi pendidikan: ketika manusia belajar bukan hanya untuk tahu, tapi untuk menjadi.
Magnum opus Miskawayh yang paling terkenal, Tahdzīb al-Akhlaq wa Taṭhīr al-Aʿrāq (Penyucian Akhlak dan Perbaikan Watak), oleh Daiber disebut bukan sekadar karya tulis tentang akhlak, melainkan kurikulum jiwa. Ia mengajarkan bahwa kebajikan harus dipraktikkan seperti latihan jasmani berulang, disiplin, dan dengan niat yang jernih. Seseorang tidak menjadi dermawan karena membaca ayat tentang sedekah, tapi karena melatih diri memberi hingga memberi menjadi sifat alami.
Inilah yang disebut Miskawayh
sebagai riyāḍah al-nafs, pelatihan diri. Ia mirip dengan konsep
psikologi modern tentang habit formation, namun berdimensi spiritual. Bagi
Miskawayh, setiap latihan moral adalah ibadah, setiap ibadah yang sadar adalah
pendidikan.
Jika kita menoleh ke ruang publik Indonesia hari ini dari dunia politik hingga pendidikan, krisis yang paling terasa bukan kekurangan orang pintar, tetapi defisit orang berbudi. Kecerdasan melimpah, tapi kejujuran menipis. Ilmu bertambah, tapi empati berkurang.
Pemikiran Miskawayh, sebagaimana dibaca ulang oleh Daiber, terasa relevan sebagai kritik terhadap arah pendidikan modern. Selama sekolah hanya mengajarkan what to think dan bukan how to be good, maka kita akan terus melahirkan generasi yang unggul di atas kertas, tapi rapuh dalam nurani. Etika Miskawayh mengingatkan, pendidikan tidak boleh berhenti pada akal, ia harus sampai pada jiwa. Dalam istilah al-Qur’an, bukan sekadar ʿilm, tetapi ḥikmah.
Menjadi Serupa dengan Tuhan
Gagasan “menjadi serupa dengan
Tuhan” mungkin terdengar asing di telinga modern.
Namun dalam konteks Islam, ia bermakna mendalam: manusia adalah makhluk yang
diberi potensi untuk memantulkan sifat-sifat Ilahi. Ketika seseorang berlaku
adil, ia sedang meniru keadilan Tuhan. Ketika ia mengajar dengan kasih, ia
sedang memantulkan rahmah Tuhan. Ketika ia berpikir jernih, ia meniru
hikmah-Nya.
Itulah makna pendidikan dalam Islam
(theomimesis) peniruan Ilahi melalui moralitas. Miskawayh menjadikannya
puncak saʿādah, kebahagiaan sejati bukan terletak pada kesenangan,
tetapi pada kemampuan menjadi cermin bagi cahaya Ilahi.
Dalam kerangka ini, peran guru bukan hanya penyampai materi, melainkan penjelmaan sifat Ilahi di ruang belajar. Guru yang adil, sabar, dan penyayang sedang menunaikan fungsi ke-Tuhanan dalam pendidikan. Sebaliknya, pendidikan yang kehilangan teladan guru akan melahirkan generasi yang pandai tetapi dingin akal tanpa jiwa.
Miskawayh menulis, “Akal yang
bersih adalah cermin bagi ruh yang suci.” Tugas pendidikan adalah menjaga
agar cermin itu tetap bening. Begitu ia keruh oleh ambisi dan kemarahan,
pengetahuan berubah menjadi senjata, bukan rahmat.
Daiber menutup tulisannya dengan kalimat yang mengguncang, “Ethics in Islam is not autonomy of reason, but its divinization through virtue.” Etika dalam Islam bukan otonomi akal, melainkan pen-Tuhan-an akal melalui kebajikan.
Pendidikan modern terlalu lama
berhenti pada otonomi akal. Kini saatnya mengembalikan pendidikan pada
pen-Tuhan-an akal, menjadikan ilmu bukan alat kekuasaan, tetapi jalan
penghambaan.
Miskawayh, lebih dari seribu tahun lalu, sudah memberi peta jalan itu. Ia mengingatkan bahwa tugas pendidikan bukan mencetak manusia cerdas, tetapi manusia yang bercahaya yang dalam dirinya tampak keadilan, kebijaksanaan, dan kasih sayang Tuhan.
Ketika pendidikan berubah menjadi
industri, mungkin kita perlu kembali ke pesan sederhana Miskawayh, “Carilah
kebahagiaan bukan di luar dirimu, tapi dalam jiwa yang terdidik.” Dan jiwa
yang terdidik adalah jiwa yang telah belajar meniru Tuhan dalam adab, dalam akal, dan dalam cinta.